Ribuan Penduduk Yaman Tewas dan Kelaparan, Mereka Butuh Kita!

oleh -762 views

Jabarpos-Sudah tiga tahun krisis kemanusiaan melanda Yaman. Lebih dari 10.000 orang tewas dalam konflik, sementara kematian membayangi jutaan manusia lain akibat kelaparan dan wabah kolera yang menyebar liar.

Kelaparan massal yang terjadi di Yaman bukan lantaran gagal panen atau bencana alam.

Meski masuk dalam daftar negara termiskin di Jazirah Arab, Yaman punya tanah relatif subur, yang menghasilkan biji-bijian termasuk sorgum, sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, kopi, kapas, hingga khat (qat) yang bisa bikin teler mereka yang mengonsumsinya. Sementara, sektor peternakan menghasilkan produk susu, ikan, ternak (domba, kambing, sapi, unta), serta unggas.

Penduduk di negara itu mati perlahan akibat malapetaka yang dibuat oleh manusia: pertempuran, blokade, dan sanksi yang dikenakan pada penduduk sipil oleh pihak-pihak yang bertikai dalam perang saudara antara pemberontak Houthi melawan loyalis pemerintah yang didukung koalisi Arab Saudi.

Perang, yang menghalangi masuknya bantuan pangan yang sangat dibutuhkan warga yang terdampak konflik, memicu kelaparan yang berdampak pada 17 juta manusia.

Kurangnya air bersih, yang dipicu air tanah yang terkuras serta kerusakan infrastruktur, mengarah pada penyebaran wabah kolera yang sejauh ini telah merenggut 2.000 nyawa di 21 dari 22 provinsi di Yaman. Sementara, lebih dari 2 juta orang juga terpaksa mengungsi.

Ibarat ajal tinggal sejengkal bagi ribuan warga sipil. Mereka terjebak di tengah serangan udara, bombardir mortar, dan ranjau darat yang segera meledak saat diinjak.

Amal Hussein adalah salah satu korban konflik berkepanjangan di Yaman. Tubuh bocah 7 tahun itu tinggal tulang dibalut kulit.

Fotonya, dengan kedua tangan di dada dan tatapan yang kosong, menjadi simbol konflik berkepanjangan di Yaman. Gambar tersebut diambil jurnalis Tyler Hicks di klinik UNICEF pada 18 Oktober 2018 lalu. Kala itu, Amal dalam kondisi kesakitan. Ia menderita malnutrisi akut. Kurang gizi parah.

Setelah mendapat perawatan, bocah itu kembali ke rumah. Delapan hari kemudian, ia meninggal dunia.

“Amal selalu tersenyum. Kini, saya khawatir dengan nasib anak-anak kami yang lain,” kata sang ibu, Mariam Ali seperti dikutip dari CNN.com.

Setelah foto Amal dalam kondisi menyedihkan dipublikasikan oleh The New York Times, di tengah kehebohan internasional atas pembunuhan brutal terhadap wartawan Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis dan Menlu Mike Pompeo pun menyerukan gencatan senjata “dalam 30 hari ke depan.”

Amal hanya satu dari 2 juta bocah yang menjadi korban kelaparan di Yaman. Pada November 2018, organisasi kemanusiaan Save the Children mengungkap, lebih dari 85.000 anak di bawah usia 5 tahun atau balita diperkirakan tewas akibat kelaparan. Jumlah itu belum termasuk kematian di luar kategori umur tersebut.

“Saya takut dengan perang dan khawatir kami tak akan punya makanan sama sekali. Ini sangat menyedihkan,” kata Suad seperti dikutip dari The Guardian.

Buah hatinya, Nusair yang berusia 13 tahun, dirawat Save the Children karena mengalami malnutrisi akut. “Saya tak bisa tidur. Ini sangat menyiksa…,” tambah dia.

Juru bicara Save the Children, Bhanu Bhatnaga mengungkapkan, konflik di Yaman seakan menjadi badai yang memaksa negara itu terseret jurang kelaparan. Kekerasan yang melibatkan senjata-senjata canggih mengganggu produksi pangan, menghancurkan rumah sakit dan pusat kesehatan di mana orang-orang yang lemah mendapatkan perawatan.

Bhatnagar menambahkan, hambatan untuk mengimpor dan mendistribusikan pasokan memicu kondisi rawan pangan. Kalaupun ada bahan pangan di pasar, warga tak mampu membelinya. Gaji para pegawai tak dibayar selama berbulan-bulan, sementara nilai mata uang kian jatuh.

“Untuk para balita di Yaman, situasi ini bak hukuman mati bagi mereka,” kata Bhatnagar. “Yang mengejutkan adalah, 85 ribu kematian anak di bawah usia lima tahun bukan akibat kekeringan atau perubahan iklim. Itu adalah hasil dari konflik yang dipicu oleh negara-negara yang sejatinya memiliki kekuatan untuk menghentikannya.”

Perang saudara di Yaman tak hanya melibatkan kubu pemerintah melawan pemberontak. Ada negara-negara lain yang terlibat, diakui atau disangkal, langsung atau tak langsung: Arab Saudi, Amerika Serikat, Iran, Uni Emirat Arab, Qatar, Inggris. (detik.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *