Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi Pegang Teguh Tradisi Leluhurnya

oleh -2.505 views

Jabarpos.com. CISOLOK –  Wilayah yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur,Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, berada di Kampung Sukamulya,Desa Sinar Resmi,Kecamatan Cisolok,Kabupaten Sukabumi memiliki berbagai keistimewaan. Kampung Gede adalah sebuah kampung adat karena eksistensinya masih dilingkupi oleh tradisi atau aturan adat warisan leluhur.

Berdasarkan data yang diperoleh,di Kasepuhan Ciptagelar jumlah warga kasepuhan sebanyak 15.795 jiwa atau 3.833 KK. Sementara warga kasepuhan yang berada di Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar sebanyak 338 jiwa terhimpun dalam 76 KK.

Secara geografis Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar memiliki
wilayah administrasi mencakup tiga wilayah. Wilayahnya meliputi,Kabupaten Lebak, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi Kampung adat yang mempunyai ciri khas. Tidak hanya bentuk rumah,tapi tradisi yang masih memegang teguh adat istiadat. Kedua ciri khas tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan Pemerintah Belanda sempat memberikan penghargaan dalam hal ekologi.

Kasepuhan adat Ciptagelar merupakan kampung adat yang berada dikesatuan adat Banten Kidul. Kasepuhan Adat Ciptagelar masih memegang kuat adat dan tradisi yang diturunkan diperkirakan sejak 640 tahun lalu.

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh melalui jalur darat dengan lintasan dari pesisir Pantai Selatan Palabuhanratu menuju Desa
Sirnaresmi di Kecamatan Cisolok. Selain tidak beraspal,lintasan hanya bisa dilalui kendaraan offroad dan kendaraan roda dua gunung. Jarak diperkirakan lebih dari 14 kilometer berada di areal kawasan hutan.

Keberadaan kampung adat berada 27 km dari pusat kota kecamatan Cisolok. Sedangkan dari pusat pemerintah kota Sukabumi diperkirakan mencapai 103 Km. Sedangkan dari Bandung dengan jarak tempuh mencapai 203 km ke arah Barat.

Kampung adat Ciptagelar dipimpin Sepuh Girang Abah Ugi Sugriwa Raka Siwi. Abah Ugi memegang tampuk kepemimpinan kasepuhan setelah ayahandanya, Encup Sucipta atau dikenal dengan Abah Anom meninggal dunia. Dia memimpin saat masih berusia 23 tahun.

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul berada di daerahan agraris.
Sebagian besar masyarakatnya,berprofesi bertani. Kendati ada
sebagian kecil berprofesi selain petani,seperti berdagang,buruh
dan pegawai. Tapi warga yang berada dikawasan Taman Nasional
Gunung Halimun sama sekali tidak meninggalkan lahan pertanian.

“Sebagian besar warga berprofesi petani. Terutama warga yang
berada di disekitat kampung adat,masih memegang teguh adat dan tata cara bertani tradisional bertani,”kata juru bicara
Kasepuhan Ciptagelar,Yoyok Yogasmana

Ada beberapa pantangan dalam mengolah dan bercocoktanam, kata Yoyok Yogasmana,selain harus mengolah secara tradisional. Juga warga Kasepuhan Ciptagelar dilarang menjual beras atau padi. Sehingga tidak aneh Kasepuhan Ciptagelar mampu berswasembada pangan hingga beberapa tahun kedepan.

“Padi merupakan kehidupan, bila seseorang menjual beras atau
padi, berari menjual kehidupannya sendiri. Padahal kehidupan
berarti sama halnya berbicara hidup yaitu berbicara nyawa,”
katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan yang lainya untuk mendapatkan uang,kata Yoyok Yogasmana,warga kampung adat memiliki sumber-sumber penghasilan yang lain. Mereka beternak, berdagang, membuka usaha atau menjadi pegawai.“Sumber penghasilan itulah,bisa dijual belikan untuk memperoleh uang. Hanya saja, menjual beras kami sangat melarang keras” katanya.

Selain itu,kata Yoyok Yogasmana,warga Kasepuhan Cipta Gelar
menggunakan strategi tanam serentak dengan melihat tanda-tanda astronomi. Termasuk menggunakan pola tanam dengan menggunakan strategi menanam padi serentak.

Langkah tersebut sangat efektif,kata Yoyok Yogasmana,sehingga
siklus hama dapat dihindarkan. Komunalitas ini membuat agenda tanam dapat dilakukan secara serentak dan efektif meskipun hanya sekali panen dalam setahun.

“Karena serentak jadi hamanya sedikit dan hanya sekali waktu
saja. Dan kalaupun ada tikus,masyakat kamung adat menganggap tikus bukanlah hama melainkan merupakan bagian dari kehidupan warga Cipta Gelar. Dan itu tidak perlu dibunuh hanya dihindarkan” kata Yoyok Yogasmana.

Kasepuhan Ciptagelar untuk memenuhi kebutuhan pangannya, kata Yoyok Yogasmana,melakukan cara atau sistem pertanian menanam padi setahun sekali tanpa menggunakan mekanisme pertanian yang modern. Petani hanya menggunakan pola-pola tradisional untuk tata cara bercocok tanam.“Termasuk tidak menggunakan mesin traktor,gilingan padi hingga cara memanen. Apalagi menggunakan pupuk kimia menjadi pantangan para petani”katanya.

Yoyok Yogasmana mengatakan Kasepuhan Ciptagelar memiliki jenis padi hingga mencapai 120 jenis. Walaupun hanya sekali panen dalam setahun kasepuhannya memiliki 8.000 lumbung padi. Ribuan lumbung tersebut merupakan stok bagi 30.000 warga hingga 3 tahun kedepan.“Jadi kami mah teu keeung ku beas (warga tidak pernah resah dengan beras) ”katanya.

Selain itu, masyarakat adat di Kampung Ciptagelar dipandang
sebagai kelompok masyarakat yang mampu menyeimbangankan antara manusia dengan alam. Terutama dalam hal pengelolaan hutan yang berada disekitar pemukiman sebagai salah satu sumber kehidupan. Salah satunya,tatanan yang tidak dapat ditinggalkan dalam pengelolaan pertanian.

Meskipun sebagai kelompok masyarakat yang masih kuat memegang teguh menjaga adat istiadat leluhur. Namun tidak menampik kemajuan teknologi. Bahkan teknologi,kini telah dinikmati sebagai bagian tatanan dilingkungan masyarakatanya.

Masuknya lsitrik dari hasil kepiawaan merakit alih teknologi
yang dilakukan sosok Abah Ugi Sugriwa Raka Siwi. Sehingga kini
tekologi mampu membawa kampung adat dapat menikmatin
modernisasi. Sehingga tidak perlu heran,meski berada ditengah
tengah pegunungan,warga Ciptagelar tidak pernah kehilangan
informasi.“Dengan mengusai teknologi,kami tidak lagi bisa
dibobodo deui.”kata Ugi Sugriwa Raka Siwi .

Dari hasil kemampuan menyerap tekologi,kata Ugi Sugriwa Raka
Siwi,warganya kini mampu menikmati listrik. Dengan
mengoptimalkan keberadaan sungai yang berada di sekitar pemukiman warga menggerakan turbin pembangkit listrik sehingga ratusan warganya mampu menikmati listrik.

“Walaupun masih sangat sederhana,tapi Kasepuhan Ciptagelar sudah memiliki stasiun TV lokal sendiri yang diberi nama Ciga TV.”katanya.

Pada prinsipnya,kata Ugi Sugriwa Raka Siwi,warga Kasepuhan
Ciptagelar tidak menutup diri terhadap inovasi dari luar. Tapi
keberadaaannya harus diselaraskan dengan kehidupan kampung adat. Seperti penggunaan barang-barang elektronik. Namun prinsif teguh menjaga tradisi dan budaya pendahulu dapat menjadi penyeimbang tatanan kehidupan agar tidak tergerus dan terbawa arus modernisasi.

“Ada istiadat tidak boleh hilang, tetapi tetap tidak meninggalkan
perkembangan tekhnologi. Jadi,jika mengurangi tidak boleh tetapi kalau menambah tidak apa-apa.”katanya.

Perkembangan zaman dan teknologi tidak sedikitpun mempengaruhi masyarakat Ciptagelar dalam menjalankan sisten penggarapan pertanian khususnya padi. Tidak hanya masyarakat dikampyng ini mampu mempertahankan tradisi leluluhur dalam hal menanak nasi.

Jika sebagian masyarakat bisanya lebih memilih memafaatkan
kemajukan teknologi pertanian yang kian berkembang. Namun tidak bagi masyarakat Ciptagelar. Mereka secara turun teurun tetap menjaga dan melstarikan tradisi leluhur.

Bahkan dikampung adat ini juga sangat begitu hormat dalam
memperlakukan padi. Bahkan mereka menyimpa ditempat khusus yang disebut dengan Leuit atau lumbung padi yang dibangun dan ditempat secara khusus.

“Terutama adat istiadat dalam pertanian secara tradisional. Adat
turun temurun memang harus tetap dipertahankan dan tidak akan merubahnya. Tapi warga adat tetap terbuka dengan tekhnologi lain.”katanya

Tata cara lainnya yang masih dipegang kuat yaitu tradisi memasak nasi. Secara turun temurun masyarakat di kampung ini mengolah beras menjadi nasi dengan cara tradisonal. Yaitu menggunakan berbagai jenis peralatan memasak seperti Aseupan,atau tempat yang terbuat dari bambu berbentuk kerucut yang disimpan diatas wajan atau seeng dengan menggunakan energi pemanas dari tunggku berbahan kayu bakar.

Sementara nasi yang dihidangkan dimasukan kedalam boboko atau bakul yang sebelumnya sudah dikasih daun pisang sebagai alas. Menjaga tradisi leluhur menjadi kewajiban setiap masyarakat adat yang tidak dapat ditukar sampai kapanpun dalam menjaga dan melestarikan pertanian,khususnya padi.

Selain itu,menjadi kekuatan tradisi di kampung Gede Kasepuhan
Cipta gelar yaitu,bentuk bangunan yang sangat kental dengan
nuasa alam. Berbahan kayu atau bambu dan beratp daun rumbia atau ijuk. Secara teroritail daerah berada diantara tiga kabupaten.
Yaitu,Bogor,lebak banten dan Sukabumi.

Keteraturan dan keseimbangan alam semesta merupakan sesuatu yang mutlak. Adanya malapateka atau bencana menurut pandangan warga kasepuhan adalah sebagai akibat keseimbangan dan keteraturan alam semesta terganggu.

“Sementara tugas manusia adalah memelihara dan menjaga keseimbangan hubungan berbagai unsur yang ada di alam
semesta ini,” Pungkasnya.(AP-JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *