TBC Dapat Menyerang Tulang !!!!

oleh -1.316 views

 

JABARPOS– Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang sudah cukup lama usianya. Sayang, hingga saat ini penyakit itu masih juga memakan korban. Saat ini Indonesia menduduki posisi negara ketiga terbanyak pasien TBC di dunia. Tidak hanya paru yang akan dirusak oleh kuman TBC, namun juga tulang.

Direktur Kesehatan Ditjen Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Arie Zakaria, mengatakan kuman penyebab penyakit tuberkulosis atau TBC tidak hanya menyerang paru-paru. Namun bisa juga menyerang organ lain seperti tulang. Sayang sulit sekali mendeteksi apakah kuman TBC sudah mengenai tulang atau belum. Ia sering mendapat pasien dengan TBC di tulang, dengan diagnosis awal bukan TBC tulang. “(Ketika tulangnya sakit) Kadang juga kita malah mengiranya itu kelumpuhan, polio, penyakit saraf, atau sebagainya. Bisa diketahui setelah rontgen,” ujar Arie usai diskusi di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa 19 Maret 2019.

Ia mengatakan proses terjadinya TBC tulang disebabkan oleh kuman tuberkulosis yang menyerang paru-paru lalu menjalar ke tulang melalui aliran darah. Umumnya menurutnya, tulang punggung menjadi wilayah yang sering terkena TBC. Alasannya tulang punggung berada dekat sekali dengan paru-paru yang sudah terlebih dahulu dirusak kuman TBC. “Yang paling banyak TBC tulang menyerang tulang punggung. Hancur sampai orang bisa bongkok dan lumpuh,” tuturnya.

Dokter ahli bedah ortopedi ini menjelaskan, TBC tulang juga bisa menyerang bagian lutut. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan mengambil cairan yang ada pada lutut penderita. Pasien juga bisa menjalani proses CT Scan untuk lebih yakin. “Kita baru tahu kalau kita ambil cairan di lututnya dan warnanya berubah, pas kita tes TBC-nya positif,” ujarnya.

TBC tulang sukar untuk dideteksi awal, ia menyarankan untuk memfokuskan penyembuhan pada TBC paru lebih dulu. Karena TBC tulang umumnya diawali dengan TBC Paru yang tak tertangani dengan baik. “TBC paru adalah sumber penularan utama. Itu juga jauh lebih tinggi. Prosesnya biasanya dari paru lari ke tukang. Berapa lamanya, manifestasinya tergantung daya tahan tubuh setiap orang,” ujar dia. (tempo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *