Lembang Punya Perang Tomat Bukan Hanya Di Spanyol

oleh -1.064 views

Jabarpos.com,Lembang- Tepuk tangan dan sorak sorai dari ribuan warga nyaring terdengar saat petasan disulut panitia tanda mengawali acara Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat di Kampung Cikareumbi RW 03, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (13/10/2019) siang.

Dalam perang tomat tersebut sebanyak empat ton tomat dilempar oleh warga ke segala arah, baik ke sesama peserta maupun ke penonton yang menyaksikan perang tomat dari jarak yang cukup dekat.

Acara perang tomat yang banyak dikenal adalah perang tomat di Spanyol. Adapun perang tomat  di Lembang ini sebelumnya dibuka dengan serangkaian upacara adat, lalu tokoh adat memberikan aba-aba sebagai pertanda bahwa perang tomat  dimulai, kemudian satu persatu tomat bersilewaran dari dua belah kubu sembari diiringi musik tradisional gamelan sunda Kalang Kamuning.

Untuk keselamatan para peserta dari lemparan tomat yang mengenai tubuhnya, mereka pun memakai alat pelindung yang terbuat dari anyaman bambu berupa helm, tameng juga rompi.

Sedangkan untuk penonton yang turut ikut serta mereka ada yang memakai jas hujan. Namun, meski sudah menggunakan alat pelindung, tubuh mereka tetap basah kuyup karena saking banyaknya tomat yang dilemparkan. Kendati demikian canda tawa dari mereka tetap terpancar dan membuat acara semakin meriah.

Penggagas Perang Tomat, Bah Nanu Muda (60), mengatakan, tomat yang digunakan dalam perang ini bukanlah tomat yang bagus atau layak dimakan, tetapi tomat yang buruk atau sudah busuk.

“Menggunakan tomat busuk untuk perang tomat ini berkaitan dengan makna ngaruat, yaitu membersihkan diri dari hal yang buruk, atau membuang sifat-sifat busuk yang ada dalam diri kita,” ujarnya saat ditemui usai perang tomat.

“Sedangkan maksud dan tujuan Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat, kata dia, sebagai ungkapan membuang sial bagi segala macam hal yang buruk atau sifat yang tidak baik dalam diri masyarakat maupun hal buruk dengan penyakit tanaman.

Sehingga filosofi mereka membuang atau saling melemparkan tomat ke kepala yang di tutupi topeng berarti menyimbolkan melempar atau membuang sifat-sifat buruk,” katanya.

Setelah perang selesai, lanjutnya, seluruh tomat yang sudah hancur dan berserakan di jalan, kemudian dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan kompos pupuk tanaman tomat dan sayuran lainnya.

“Dengan adanya perang tomat dapat meningkatkan kreatifitas kebudayaan dan nilai ekonomi bagi masyarakat dan petani di Cikareumbi,” kata Bah Nanu.

Atas hal tersebut, tomat yang busuk itu bukan sekadar untuk amunisi perang sebagai media utama gelar Perang Tomat, tetapi sangat multi fungsi. Selain bentuk ungkapan pertunjukan wisata budaya kreatif juga bisa bermanfaat bagi tanaman lain ( Kompos). (Gus/Jpc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *