Kebahagiaan Itu Takdapat Diungkapkan, Bisa Sampai di Sanghyang Sirah

oleh -3.725 views

Jabarpos.com. Bandung – Setelah diombang ambing oleh ombak yang begitu besar dan ganas, akhirnya rombongan keluarga besar paguron sampai di pesisir Sanghyang Sirah,Ujung Kulon pukul 14.30 WIB, lagi-lagi kapal tidak bisa merapat ke pesisir pantai, Minggu,(01/07/2012)

Setelah jangkar dilempar, dan perahu kecil (sekoci) sudah diikat dari perahu ke pinggir pantai, rombongan satu persatu bergantian naik sekoci dari kapal ke pinggir pantai, yang hanya memuat 3 orang termasuk yang mengemudikan sekoci tersebut.

Ada hal yang menarik dengan cerita perjalanan Om Yus yaitu, “ketika giliran Pa Nendi dan Kang Yoppy menyeberang, saat sudah hampir sampai dipinggir pantai sekoci yang dinaiki tiba-tiba terbalik karena penuh dengan air laut, otomatis keduanya menjadi basah kuyup, bukan hanya itu kamera SLR yang sedang dipegang pun akhirnya merasakan asinnya air laut”Ungkapnya.

Setelah semua sampai didarat, rombongan meneruskan perjalanan menuju lokasi yang masih sekitar lebih kurang 4 km lagi, sekitar 1 jam dengan berjalan kaki dengan menyusuri pinggir pantai.

“Kami semua terkesima dengan suasana yang sungguh sangat menakjubkan, ternyata sungguh agung kekuasaan Tuhan dan kami semua sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki diatas tanah Sanghyang Sirah yang dengan segala macam keindahannya selain suasana lahir, alam bathinnya pun membuat ketenangan yang sangat berbeda”Ujar Om Yus kenangnya saat itu.

Selain tebing yang menjulang tinggi ada sebuah gua yang didalamnya terdapat batu yang berupa seperti Sirah (kepala) orang menyebutnya dengan sebutan Batu Qur’an, disitu juga terdapat 7 lawang (lubang pintu) yang mengelilingi batu Qur’an tersebut.

“Kami mengadakan munajat dan berdoa, atas rasa syukur sudah bisa melaksanakan amanah dan mewujudkan niat kami sudah dapat menginjakkan kaki di Sanghyang Sirah, walaupun dengan segala macam halangan dan rintangan begitu berat, tetapi kami semua bisa melalui nya dengan tidak kurang suatu apapun”Unkapnya.

“Kami semua menyempatkan mandi di sungai yang airnya sangat jernih sekali hingga membuat tubuh kami merasa segar, dan orang-orang menyebutnya walumgan Ci Kancana”imbuhnya.

Sekitar jam 16.00 WIB, Rombongan kembali menuju kapal, lagi lagi ada hal yang menarik pada saat kembali menuju kapal, Kang Yoppi untuk yang kedua kalinya harus merasakan asinnya air laut karna kehilangan keseimbangan ahirnya tercebur,namun saat itu di temani oleh Kang Arif dan Kang Iwan jadi mereka bertiga dalam perahu kecilnya  dalam keadaan basah kuyup termasuk HP juga barang yang ada dalam saku baju dan celananya mereka bertiga naik ke kapal.

Setibanya dikapal rombongan disuguhkan nasi liwet yang sudah dimasak oleh para awak kapal, rombonganpun langsung menikmati nasi liwet seadanya walau tanpa lauk pauk, di atas kapal sambil menikmati deburan ombak dan pemandangan begitu indah.

Setelah menikmati nasi liwet, tepat pukul 17.00 WIB kapal mulai berangkat meninggalkan lokasi Sanghyang Sirah menuju pulang, kami semua menikmati perjalanan walaupun kondisi kami kelelahan kami merasa senang.

“Kami semakin jauh meninggalkan lokasi Sanghyang Sirah,ombak lautpun kembali pasang, tak terasa langitpun gelap hanya cahaya bulan memberikan penerangan kepada kami, dan lautpun kelihatan indah dengan diterangi cahaya bulan”

“Setelah berjam-jam bergelut dengan ombak akhirnya kami sampai di pesisir kampung Katapang, tiba di rumah Pa Jaya nahkoda sekaligus yang punya kapal sekitar pukul 22.30 WIB, kami istirahat sejenak sambil bercengkrama perjalanan kami”

“Tepat pukul 24.00 WIB malam kami semua melanjutkan perjalan menuju Bandung dengan harapan apa yang sudah kami lakukan semoga dapat menjadi berkah dan bermanfaat bagi diri sendiri juga bagi orang lain” Pungkasnya. (AP/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *