Begini Tradisi Tedak Siten yang Masih Dilestarikan di Magelang

oleh -164 views

JABARPOS.COM – Saat ini, tak banyak yang melakoni Tedak Siten atau turun tanah. Namun, tradisi ini ternyata masih dilestarikan di Kabupaten Magelang.

Seperti yang dilakukan pasangan Abbet Nugroho dan Siti K yang tinggal di Dusun Karangtengah, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Keluarga ini melakukan tradisi tedak siten untuk putera pertamanya, Gahez Rakai Pramudya Maheswara yang tepat berusia 7 bulan dalam perhitungan Jawa.

Saat ini tradisi Tedak Siten atau turun tanah tak banyak yang melakoni. Namun tradisi seperti ini ternyata masih ada dan dilestarikan di Kabupaten Magelang.

Keluarga ini sengaja mengadakan tedak siten dan mengundang anak-anak lainnya datang di rumahnya. Uba rampai pun telah tersedia seperti tangga yang terbuat dari tebu wulung, jadah (makanan terbuat dari ketan) ada tujuh warna.

Kemudian ada kurungan ayam yang di dalamnya diletakkan baik mainan, buku, alat tulis, alquran, uang dan lain sebagainya. Selain itu, ada uang dan tumpeng, makanan tradisional maupun lainnya.

Pelaksanaan tedak siten ini dipandu oleh seorang dalang Ki Eko Sunyoto. Adapun urut-urutan pelaksanaan tedak siten yakni dimulai dengan sungkeman. Dimana Maheswara dengan digendong orangtuanya meminta doa restu kepada neneknya.

Setelah itu, anak tersebut dibersihkan kedua kaki, tangan maupun mukanya dengan air yang telah diberi bunga. Selanjutnya, dia didandani (memakai) pakaian Jawa dan melakukan urut-urutan tedak siten. Mulai dari berjalan di atas jatah, kemudian menaiki tangga tebu, terus menginjak tanah.

Usai dari menginjak tanah, Maheswara dimasukkan di bawah kurungan ayam. Diharapkan saat berada di bawah kurungan tersebut bisa memilih apapun yang disukainya. Kali pertama, anak ini mengambil mainan terbang. Sang dalang yang memandu menyampaikan, ‘semoga kedepan Maheswara menjadi penerbang’,” kata dalang. Selain itu, mengambil barang lainnya.

Maheswara yang digendong orangtuanya, kemudian mengambil uang dan diberikan kepada teman-temannya yang diundang tersebut. Terakhir, seorang tokoh agama Islam setempat, Mbah Jupri diminta memimpin doa.

“Tedak siten adalah sebenarnya bagaimana cara kita memaknai bagaimana hidup dilakukan. Bagaimana menjalani hidup, kemudian bagaimana proses kehidupan itu berakhir karena memang purwa (permulaan), madya (tengah), wasana (akhir),” kata Eko ditemui usai prosesi tedak siten, Jumat (19/2/2021).

Tedak siten, katanya, upacara di Jawa yang masih berlangsung. Dulunya, tedak siten ini dilakukan oleh seorang dukun bayi. Dalam pelaksanaan tedak siten tersebut sarat makna karena ada simbol-simbol.

“Tedak siten upacara ini di Jawa masih berlangsung. Memang dulu ada dukun bayi yang melaksanakan. Bagaimana pelestarian ini sebagai perlambang simbol atau pralambang,” tuturnya.

Tradisi tedak siten tersebut, katanya, di wilayah Magelang yang berlangsung di kawasan Gunung Merbabu, Merapi, Andong, Sumbing dan kawasan Menoreh. Kehadiran anak-anak dalam tedak siten sekaligus untuk mengenalkan dan melestarikan kepada generasi selanjutnya.

“Tedak siten itu kalau sekarang masih (berlangsung di kampung) di gunung-gunung seperti Merbabu, Merapi, Andong, Sumbing masih, kawasan Menoreh masih ada. Ini sebenarnya adalah carane kok ‘cah cilik tedak sinten’ untuk anak-anak akan tahu salah satunya pelestarian ke generasi selanjutnya kalau tidak kita perkenalkan tidak tahu,” ujarnya seraya menyebut sering diundang juga dalam acara mitoni, itu.

Sementara itu, orangtua Maheswara, Abbet Nugroho mengatakan, dengan tedak siten tersebut ditakdirkan menjadi orang Jawa. Baginya, orang Jawa tersebut merupakan keseluruhan rangkaian dari lahir sampai nanti meninggal. Kemudian, pada usia 7 bulan tersebut, anak mulai mengenal tanah atau Ibu Pertiwi.

“Tedak siten bahwa kita itu ditakdirkan menjadi orang Jawa. Orang Jawa itu adalah keseluruhan rangkaian dari lahir sampai nanti dia meninggal. Dalam rangkaian proses kehidupan ini tentunya ada tahapan, prosesi-prosesi sejak dia lahir sampai nanti orang tersebut meninggal,” ujarnya.

“Anak kami Maheswara ini sekarang berusia kira-kira 7 bulan, dalam tradisi Jawa anak usia 7 bulan ini mengalami fase ‘dia mulai yang namanya tedak siten atau turun tanah’. Jadi anak ini mulai mengenal yang namanya Ibu Pertiwi karena dia akan mulai aktivitas di bumi di adat Jawa mengenal ibu bumi, bapak bapa angkasa sehingga anak ini kita ajarkan untuk menghormati Ibu Pertiwi dimana dia berpijak, dimana dia akan menjalani seluruh proses kehidupan dari lahir hingga kembali lagi ke bumi,” tuturnya.

Abbet yang juga pelaku wisata dan seniman ini menambahkan, dalam tedak siten tersebut banyak filosofinya. Mulai dari proses siraman, menginjak jadah tujuh warna, menaiki tangga tebu dan seterusnya.

“Ini banyak filosofinya di antaranya prosesi siramannya ini mencucikan lahir batinnya, kemudian menginjak jadah dengan berwarna tujuh adalah rangkaian warna gelap ke warna terang, ‘anak nanti kita harapkan menuju pencerahan’. Kemudian, anak tataran (tangga) pitu yang terbuat dari tebu arjuna atau tebu wulung, tebu dari kata antemping kalbu ini anak kita bimbing kedua orangtua, dari orangtua membimbing anak tersebut supaya menapaki tujuh tingkatan kehidupan sampai tingkatan yang ketujuh. Tujuh ini dimaksudkan dengan pitulungan ini kalau anak sudah pada level pitulungan maka semuanya kita serahkan kepada Allah SWT,” tuturnya.

Bagi Abbet, katanya, Gahez Rakai Pramudya Maheswara, yang artinya Gahez adalah pagi hari. Kemudian, Rakai Pramudya diambilkan dari cerita yang ada di Candi Borobudur, sedangkan Maheswara merupakan raja yang besar.

“Nama anaknya Gahez Rakai Pramudya maheswara. Gahez itu pagi hari, rakai pramudya itu saya ambil dari Borobudur. Maksudnya kalau sesuai dengan mitologi dan sejarah yang tertulis, nama ini supaya kelak dewasa misalnya ‘dia nanti bisa keliling dunia kayak bapaknya kan tetap ingat dia orang Borobudur,’ Maheswara ini adalah raja yang besar. Jadi supaya anak ini kelak menjadi pemimpin yang besar, jadi harapan dalam doa, namanya ini saya nama-nama Jawa meskipun artinya tetap bagai sebuah doa,” tuturnya.

Ia menambahkan, Maheswara merupakan putera pertama dari istri keduanya yang lahir pada 5 Agustus 2020. Kemudian dalam hitungan Jawa pas 7 bulan.

“Ini merupakan putera yang pertama dari istri kami yang kedua. Kelahirannya, 5 Agustus 2020. Kita pakai penanggalan Jawa, jadi 7 bulan,” katanya.(detikcom)