Tradisi Munggahan Sambut Ramadhan

oleh -1.597 views

 

Jabarpos.com. Bandung Barat-Munggahan merupakan tradisi yang dijalankan setiap tahun, menjelang Ramadhan. Ini adalah salah satu budaya Khas masyarakat Sunda. Sebuah ritual dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, munggahan bukan ritual dalam bentuk ibadah vertikal pada sang khaliq, tetapi lebih sebagai sebuah persiapan psikis guna memantapkan jiwa dalam mengahadapi bulan Ramadhan

Pada masyakat lainpun, tradisi ini dikenal walau dengan nama dan istilah yang lain, seperti Balimau untuk Masyarakat Minang, Padusan untuk masyarakat Jawa Tengah dan banyak lagi istilah lainya.

Rangkaiyan acara munggahan biasanya diisi dengan berziarah kemakam keluarga, ada yang pulang kampung untuk melewatkan sahur pertama bersama orang tua, ada pula yang mengisinya dengan melakukan ritus “mandi besar”.

Ternyata, munggah merupakan tradisi yang sudah sangat tua dan berhubungan dengan kebiasaan masyarakat Jawa Barat pada zaman prasejarah.

Dalam bahasa Sunda, kata “munggah” berarti “naik’ dan mengandung makna “peningkatan” atau “perubahan”. Tokoh Adat dari Kabuyutan Lembang Ade Juhaeri (Bah Jepri) mengatakan, dalam konteks menyambut Ramadhan, munggah berarti menuju peningkatan demi mencapai tahap yang lebih baik. Apalagi, didalam Surat Albaqarah ayat 183 disebutkan, Ramadan – melalui perintah saum – akan menjadikan orang-orang mukmin mencapai tingkat taqwa. “Urgensinya, ketika masuk ibadah saum, kita sudah siap lahir dan batin karena sudah dibersihkan waktu munggah itu,” ujarnya.

Di dalam syariat Islam, tradisi munggah sebenarnya tidak dikenal. Di arab Saudi, masyarakat hanya memiliki kebiasaan membaca doa melihat hilal menjelang datangnya bulan Ramadhan, itu pun dilakukan secara perseorangan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan kata lain, tradisi munggah, termasuk takbir keliling dan mamaleman (“mencari” Lailatulkadar), hanya tradisi lokal warisan leluhurnya yang dipadukan dengan unsur religius islam.

Sejumlah kegiatan dalam tradisi munggah merupakan kegiatan yang sebenarnya dilakukan pada upacara yang bermakna “manunggal dengan nenek moyang” pada zaman purba. Sisa-sisa upacara itu masih lestari sampai saat ini dalam bentuk bersih desa, ngalaksa, seren taun, ngarot, dan sejenisnya. Dalam upacara-upacara semacam itu, dilakukan penyatuan manusia sebagai mikrokosmos dengan alam sebagai makrokosmos.

Rangkaian upacara dari mulai mandi bersama (bersih badan). Pantang dan puasa, ziarah kubur, seni pertunjukan yang mementaskan kisah mitologi nenek moyang pendiri wilayah, dan akhirnya makan bersama atau kenduri. Tempatnya bisa di tanah lapang balai desa, leuwi, mata air, bisa juga diperkuburan desa. Pada upacara-upacara tahunan seperti itulah semua penduduk kampung berkumpul.

Sewaktu agama Islam masuk Indonesia, tradisi lama itu kemudian disesuaikan dengan kepentingan Islam. Soalnya, jika tak dilakukan, masyarakat akan merasa ada sesuatu yang hilang dari bagian dirinya sebagai kelompok. Momentum yang tepat untuk pelaksanaan upacara pun bergeser. Bukan lagi pada saat panen, melainkan menjelang bulan Puasa dan Lebaran. Artinya, kedua momentum itu dianggap sama istimewanya.

Seperti mudik, munggah akan selalau menjadi tradisi yang istimewa karena, entah mengapa, selalu sukses memunculkan suasana religius yang haru dan romantis serta rasa rindu terhadap kampung halaman (rumah). Selain sejarah yang panjang mengenai tradisi itu, mungkin kesan itulah yang membuat Munggah masih eksis dalam peradaban umat Islam Indonesia. JPC/AP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *