Ngibing Tarawangsa Dalam Menyambut Tahun Baru 1 Sura 1952 Saka

oleh -1.570 views
Seni Tarawansa Pusaka Karamat- cikahuripan Lembang.

Jabarpos.com, Lembang – Pementasan seni Ormatan Tarawangsa menjadi penutup acara menyambut tahun baru 1 Sura 1952 Saka keluaga besar Kamandaka, Kamp. Batu Reok Rt,02 Rw,09 Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, KBB. Selasa,(12/9/2018), Malam.

Seni Tarawangsa Pusaka Karamat, turut menyambut tahun baru 1 sura 1952 saka. keluarga besar Kamandaka.

Seni Tarawangsa yang Berasal dari Rancakalong Sumedang ini, merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa (Rebab) dan sebuah alat petik yang menyerupai kecapi, yang disebut jentreng.

Tarawangsa punya dua kawat sebagai perlambang bahwa Sang Pencipta selalu menciptakan makhluk berpasang-pasangan. Sedangkan jentreng berdawai tujuh, melambangkan jumlah hari dalam seminggu. Bila seluruh dawai digabung jumlahnya sembilan, sama dengan jumlah selama manusia dalam kandungan ibu, juga jumlah wali penyebar islam di tanah jawa.

Mang Boni, saat memulai acara ormatan tarawangsa.

Boni Adrian, yang akrab disapa Boni Etem, menjadi sesepuh seni Tarawangsa Pusaka karamat memulai acara Ormatan Tarawangsa, seraya berdoa kepada sang pencipta, dan taklama kemudian musik pun mulai dimainkan, dengan lembut gesekan rebab mendayu dayu yang dimainkan oleh Alam, petikan Jentreng (kecapi) memberikan ketukan irama yang di petik oleh Ade pemong, membuat para penonton malam itu semakin hanyut dan larut terbawa oleh irama yang dimainkan, taklama kemudian Obus mengawali tarian setelah menerima keris sebagai tanda untuk mulai menari (Ngibing) dengan mengenakan kain khas juga selendang putih yang dikalungkan di lehernya, itulah keteraturan seni Ormatan Tarawangsa.

Obus mulai menari (ngibing) setelah menerima keris yang diserahkan sesepuh ormatan.

Selain sebagai media upacara syukur atas hasil bumi, keselamatan, dsb, musik ritual ini dapat menimbulkan ketentraman batin pada yang meyakininya. Esensinya musik ritual yang sakral ini mempengaruhi emosi manusia, hingga menimbulkan kehalusan rasa atau budi pekerti yang mendengarnya.

Kesenian Tarawansa ini membawa pesan yang dalam, pada  hubungan manusia dengan alam. Juga penghormatan kepada sesuatu yang gaib, menyiratkan pesan bahwa ada keseimbangan alam semesta yang harus tetap dijaga keasriannya.

Agar senantiasa kita harus selalu  bersyukur atas semua yang telah dicapai, kita sebagai mahluk hidup tidak boleh lupa akan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap apa yang kita peroleh. (ap/jpc)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *